Dinamika Sosial
Jumat, 02 Desember 2016
Minggu, 29 Mei 2016
Beberapa Faktor Penyebab Penyimpangan Sosial
Penyimpangan sosial adalah perilaku yang tidak sesuai dengan
nilai-nilai kesusilaan atau kepatutan yang ada di dalam masyarakat. Setiap
individu memiliki latar belakang yang berbeda-beda sehingga menghasilkan
perilaku yang berbeda pula. Penyimpangan sosial menunjukkan bahwa proses soaialisasi telah gagal dilakukan. Ada beberapa faktor
penyebab perilaku menyimpang. Berikut adalah faktor-faktor penyebab penyimpangan
sosial. Langsung saja kita simak yang pertama:
![]() |
| Siswa tawuran juga termasuk penyimpangan sosial |
1. Kesenjangan Sosial
Perbedaan status yang mengarah pada kesenjangan sosial,
terutama antara orang kaya dengan orang miskin yang sangat mencolok, dapat
menimbulkan rasa iri dan dengki sehingga terjadi tindak pencurian, pembunuhan,
dan saling ejek.
2. Nilai dan Norma yang Terlalu Longgar
Seharusnya para perilaku menyimpang haruslah dibina. Namun ada
beberapa masyarakat yang membiarkan begitu saja perilaku menyimpang itu terjadi.
Mungkin karena masyarakat terlalu sibuk dengan rutinitas atau sudah lelah
membina pelaku perilaku menyimpang tersebut. Sehingga dia semakin menyimpang
dari masyarakat.
3. Lingkungan Pergaulan
Pergaulan secara tidak langsung sangat mempengaruhi perilaku
seseorang. Jika tanpa pengetahuan dan kesadaran yang cukup, seseorang mudah
terpengaruh oleh kelompok pergaulannya yang kerap kali menyimpang. Akibatnya ia
juga ikut berbuat perilaku yang menyimpang.
4. Ketidakpuasan
Ada beberapa individu atau kelompok yang merasa tidak puas
dengan kondisi masyarakat saat ini. Sehingga mereka perlu melakukan perubahan
walaupun yang mereka lakukan itu menyimpang dari norma masyarakat tersebut.
Misalnya ada satu kelompok masyarakat ya ng anti terhadap pendidikan dan
menganggap semua orang yang mengikuti pendidikan adalah orang yang
menyimpang.
5. Ketidaksanggupan Menyerap Norma-Norma
Orang yang tidak sanggup menyerap norma-norma yang ada di dalam
masyarakat akan tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk
menurut masyarakat. Hal tersebut terjadi akibat proses sosialisasi yang tidak
sempurna atau terjadi keretakan dalam keluarga.
6. Penyalahgunaan Narkotika
Orang yang tidak pernah melakukan penyimpangan sosial, jika
diberi narkotika (narkoba dan obat-obat terlarang), maka ia akan mengalami
penyimpangan sosial. Itu dikarenakan sifat aditif narkotika yang membuat para
pecandunya rela melakukan apa saja untuk mendapatkan narkotika.
7. Sikap Mental
Sikap mental yang tidak pernah malu membuat kesalahan juga
menjadi pemicu seseorang berbuat hal yang menyimpang. Jika sikap mental ini
diarahkan ke hal yang positif, maka dia bisa saja menjadi pemimpin yang
hebat.
8. Keluarga
Keluarga yang tidak mampu membahagiakan anaknya juga dapat
membuat anak tersebut mengalami penyimpangan sosial. Itu dikarenakan ia berusaha
mencari sumber kebahagiaan dan kasih sayang yang lain. Anak juga akan mencari
perhatian dengan cara berbuat hal yang tidak baik.
9. Intelegensi
Intelegensi atau tingkat kecerdasan juga mempengaruhi perilaku
seseorang. Biasanya orang yang memiliki keterbelakangan mental cenderung berbuat
hal-hal yang menyimpang. Sebaiknya jika orang tersebut cerdas, maka ia akan
lebih mudah memahami norma-norma yang berlaku di masyarakat.
10. Media Massa
Media massa juga dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Ada
beberapa media massa yang cenderung provokatif dan menebar kebencian. Akibatnya
dia terjerumus dan berusaha untuk membasmi orang/kaum yang ia benci. Perbuatan
tersebut seringkali menyimpang dari norma.
11. Proses Belajar yang Menyimpang
Seseorang yang terlalu sering belajar dengan tokoh idolanya
yang kerap melakukan hal yang menyimpang, maka ia akan terjerumus dan
terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Buku yang isinya menyimpang juga
dapat menjerumus seseorang.
12. Sosialisasi Subkebudayaan yang Menyimpang
Hal ini terjadi ketika budaya luar masuk ke dalam masyarakat
lokal dan beberapa kebudayaan luar tersebut menyimpang dengan norma yang ada
pada masyarakat lokal. Salah satu contohnya adalah budaya secks bebas dan
kata-kata kasar.
13. Keinginan Untuk Dipuji
Banyak sekali orang yang memiliki sikap gila pujian. Terutama
mereka yang kurang mendapat perhatian dan pujian dari keluarga. Dia rela berbuat
apa saja supaya dipuji oleh kelompoknya meskipun menyimpang. Misalnya, ada
sebuah kelompok yang suka merokok dan satu orang yang tidak merokok, orang
tersebut kurang mendapat perhatian dari keluarganya, sehingga ia merokok untuk
mendapatkan pujian dari kelompoknya tersebut.
14. Ketegangan Antara Kebudayaan dan Struktur Sosial
Terjadinya ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial
dapat meyebabkan terjadinya perilaku menyimpang. Ketegangan terjadi jika
seseorang berupaya mencapai suatu tujuan namun tidak memperoleh peluang sehingga
ia akan mengupayakan peluang itu sendiri dengan cara yang menyimpang. Contohnya
adalah jika setiap penguasa sama saja menindas rakyat maka rakyat akan berani
memberontak terhadap penguasa. Ada yang memberontak dengan cara perlawanan dan
ada pula yang terselubung seperti menunggak atau mempermainkan pajak.
15. Ikatan Sosial yang Berlainan
Setiap orang biasanya berhubungan dengan beberapa kelompok yang
berbeda. Hubungan tersebut akan membuat seseorang lama-kelamaan akan
mengidentifikasikan diri dengan kelompok yang paling dihargainya. Jika perilaku
kelompok tersebut menyimpang, maka kemungkinan besar ia juga terjerumus ke dalam
penyimpangan sosial tersebut.
16. Labelling
Pemberian labelling atau julukan negatif pada seseorang yang walaupun hanya sekali melakukan tindakan menyimpang juga dapat memberikan dampak buruk. Ia merasa terganggu dengan label barunya tersebut dan cenderung akan mengulanginya lagi karena sudah terlanjur. Misalnya jika seseorang ketahuan mencuri, maka dia akan dicap pencuri oleh masyarakat, padahal ia hanya sekali melakukan pencurian.
Kamis, 24 Maret 2016
Perilaku Menyimpang
PENGERTIAN PERILAKU MENYIMPANG
Ada beberapa definisi penyimpangan sosial,yang diajukan para sosiolog :
Ada beberapa definisi penyimpangan sosial,yang diajukan para sosiolog :
a. James Vander Zander
Perilaku
menyimpang merupakan perilaku yang dianggap sebagai hal tercela dan di
luar batas batas toleransi oleh sejumlah besar orang.
b. Robert M. Z. Lawang
Perilaku
menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma norma yang
berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang
berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku tersebut.
c. Bruce J. Cohen
Perilaku
menyimpang adalah setiap perilaku yang berhasil menyesuaikan diri dengan
kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat.
d. Paul B. Horton
Penyimpangan adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat.
Dari definisi-definisi di atas,
pengertian perilaku menyimpang dapat diartikan sebagai setiap perilaku
yang tidak sesuai dengan norma-norma yang ada di dalam masyarakat.
Perilaku-perilaku seperti ini terjadi karena seseorang mengabaikan norma
atau tidak mematuhi patokan baku dalam masyarakat sehingga sering
dikaitkan dengan istilah-istilah negatif.
Menurut Paul B. Horton penyimpangan sosial memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Penyimpangan harus dapat didefinisikan
Perilaku dikatakan menyimpang atau tidak harus bisa dinilai berdasarkan kriteria tertentu dan diketahui penyebabnya.
b. Penyimpangan bisa diterima bisa juga ditolak
Perilaku menyimpang tidak selamanya negatif, adakalanya penyimpangan
bisa diterima masyarakat, misalnya wanita karier. Adapun pembunuhan dan
perampokan merupakan penyimpangan sosial yang ditolak masyarakat.
c. Penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlak
Semua
orang pernah melakukan penyimpangan sosial, tetapi pada batas-batas
tertentu yang bersifat relatif untuk semua orang. Dikatakan relatif
karena perbedaannya hanya pada frekuensi dan kadar penyimpangan. Jadi
secara umum, penyimpangan yang dilakukan setiap orang cenderung relatif.
Bahkan orang yang telah melakukan penyimpangan mutlak lambat laun harus
berkompromi dengan lingkungannya.
d. Penyimpangan terhadap budaya nyata ataukah budaya ideal
Budaya
ideal adalah segenap peraturan hukum yang berlaku dalam suatu kelompok
masyarakat. Akan tetapi pada kenyataannya tidak ada seorang pun yang
patuh terhadap segenap peraturan resmi tersebut karena antara budaya
nyata dengan budaya ideal selalu terjadi kesenjangan. Artinya, peraturan
yang telah menjadi pengetahuan umum dalam kenyataan kehidupan
sehari-hari cenderung banyak dilanggar.
e. Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan
Norma
penghindaran adalah pola perbuatan yang dilakukan orang untuk memenuhi
keinginan mereka, tanpa harus menentang nilai-nilai tata kelakukan
secara terbuka.Jadi norma-norma penghindaran merupakan bentuk
penyimpangan perilaku yang bersifat setengah melembaga.
f. Penyimpangan sosial bersifat adaptif (menyesuaikan)
Penyimpangan
sosial tidak selamanya menjadi ancaman karena kadang-kadang dapat
dianggap sebagai alat pemikiran stabilitas sosial.
FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA PENYIMPANGAN SOSIAL
Menurut
Wilnes dalam bukunya “Punishment and Reformation“ sebab-sebab
penyimpangan/kejahatan dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut:
· Faktor subjektif, adalah faktor yang berasal dari seseorang itu sendiri (sifat pembawaan yang dibawa sejak lahir).
· Faktor
objektif, adalah faktor yang berasal dari luar (lingkungan). Misalnya
keadaan rumah tangga, seperti hubungan antara orang tua dan anak yang
tidak serasi.
Untuk lebih jelasnya, berikut diuraikan beberapa penyebab terjadinya penyimpangan seorang individu (faktor objektif):
a. Ketidaksanggupan menyerap norma-norma kebudayaan
Seseorang
yang tidak sanggup menyerap norma-norma kebudayaan ke dalam
kepribadiannya, ia tidak dapat membedakan hal yang pantas dan tidak
pantas. Keadaan itu terjadi akibat dari proses sosialisasi yang tidak
sempurna, misalnya karena seseorang tumbuh dalam keluarga yang retak
(broken home). Apabila kedua orang tuanya tidak bisa mendidik anaknya
dengan sempurna maka anak itu tidak akan mengetahui hak dan kewajibannya
sebagai anggota keluarga.
b. Proses belajar yang menyimpang
Seseorang
yang melakukan tindakan menyimpang karena seringnya membaca atau melihat
tayangan tentang perilaku menyimpang. Hal itu merupakan bentuk perilaku
menyimpang yang disebabkan karena proses belajar yang menyimpang.
Misalnya, seorang anak yang melakukan tindakan kejahatan setelah melihat
tayangan rekonstruksi cara melakukan kejahatan atau membaca artikel
yang memuat tentang tindakan kriminal. Demikian halnya karir penjahat
kelas kakap yang diawali dari kejahatan kecil-kecilan yang terus
meningkat dan makin berani/nekad merupakan bentuk proses belajar
menyimpang. Hal itu juga terjadi pada penjahat berdasi putih (white
collar crime) yakni para koruptor kelas kakap yang merugikan uang negara
bermilyar-milyar. Berawal dari kecurangan-kecurangan kecil semasa
bekerja di kantor/mengelola uang negara, lama-kelamaan makin berani dan
menggunakan berbagai strategi yang sangat rapi dan tidak mengundang
kecurigaan karena tertutup oleh penampilan sesaat.
c. Ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial
Terjadinya
ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial dapat mengakibatkan
perilaku yang menyimpang. Hal itu terjadi jika dalam upaya mencapai
suatu tujuan seseorang tidak memperoleh peluang, sehingga ia
mengupayakan peluang itu sendiri, maka terjadilah perilaku menyimpang.
Misalnya jika setiap penguasa terhadap rakyat makin menindas maka
lama-kelamaan rakyat akan berani memberontak untuk melawan kesewenangan
tersebut. Pemberontakan bisa dilakukan secara terbuka maupun tertutup
dengan melakukan penipuan-penipuan/pemalsuan data agar dapat mencapai
tujuannya meskipun dengan cara yang tidak benar. Penarikan pajak yang
tinggi akan memunculkan keinginan memalsukan data, sehingga nilai pajak
yang dikenakan menjadi rendah. Seseorang mencuri arus listrik untuk
menghindari beban pajak listrik yang tinggi. Hal ini merupakan bentuk
pemberontakan/perlawanan yang tersembunyi.
d. Ikatan sosial yang berlainan
Setiap
orang umumnya berhubungan dengan beberapa kelompok. Jika pergaulan itu
mempunyai pola-pola perilaku yang menyimpang, maka kemungkinan ia juga
akan mencontoh pola-pola perilaku menyimpang.
e. Akibat proses sosialisasi nilai-nilai sub-kebudayaan yang menyimpang
Seringnya
media massa menampilkan berita atau tayangan tentang tindak kejahatan
(perilaku menyimpang) menyebabkan anak secara tidak sengaja menganggap
bahwa perilaku menyimpang tersebut sesuatu yang wajar. Hal inilah yang
dikatakan sebagai proses belajar dari sub-kebudayaan yang menyimpang,
sehingga terjadi proses sosialisasi nilai-nilai sub-kebudayaan
menyimpang pada diri anak dan anak menganggap perilaku menyimpang
merupakan sesuatu yang wajar/biasa dan boleh dilakukan.
BENTUK-BENTUK PENYIMPANGAN SOSIAL
Bentuk-bentuk penyimpangan sosial dapat dibedakan menjadi dua, sebagai berikut:
a. Bentuk penyimpangan berdasarkan sifatnya dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut:
1.) Penyimpangan bersifat positif
Penyimpangan
bersifat positif adalah penyimpangan yang mempunyai dampak positif
terhadap sistem sosial karena mengandung unsur-unsur inovatif, kreatif,
dan memperkaya wawasan seseorang.
Penyimpangan
seperti ini biasanya diterima masyarakat karena sesuai perkembangan
zaman. Misalnya emansipasi wanita dalam kehidupan masyarakat yang
memunculkan wanita karir.
2.) Penyimpangan bersifat negatif
Penyimpangan bersifat negatif adalah penyimpangan yang bertindak ke arah nilai-nilai sosial yang dianggap rendah dan selalu mengakibatkan hal yang buruk.
Bobot
penyimpangan negatif didasarkan pada kaidah sosial yang dilanggar.
Pelanggaran terhadap kaidah susila dan adat istiadat pada umumnya
dinilai lebih berat dari pada pelanggaran terhadap tata cara dan sopan
santun. Bentuk penyimpangan yang bersifat negatif antara lain sebagai
berikut:
a.) Penyimpangan primer (primary deviation)
Penyimpangan
primer adalah penyimpangan yang dilakukan seseorang yang hanya bersifat
temporer dan tidak berulang-ulang. Seseorang yang melakukan
penyimpangan primer masih diterima di masyarakat karena hidupnya tidak
didominasi oleh perilaku menyimpang tersebut. Misalnya: siswa yang
terlambat, pengemudi yang sesekali melanggar peraturan lalu lintas, dan
orang yang terlambat membayar pajak.
b.) Penyimpangan sekunder (secondary deviation)
Penyimpangan sekunder adalah perilaku menyimpang yang nyata dan seringkali terjadi, sehingga berakibat cukup parah serta mengganggu
orang lain. Misalnya: orang yang terbiasa minum-minuman keras dan
selalu pulang dalam keadaan mabuk, serta seseorang yang melakukan
tindakan pemerkosaan. Tindakan penyimpangan tersebut cukup meresahkan
masyarakat dan mereka biasanya dicap masyarakat sebagai “pencuri”,
“pemabuk”, “penodong” dan “pemerkosa”. Julukan itu makin melekat pada si
pelaku setelah ia ditangkap polisi dan diganjar dengan hukuman.
b. Bentuk penyimpangan berdasarkan pelakunya, dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut:
1.) Penyimpangan individual (individual deviation)
Penyimpangan
individual adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang
menyimpang darinorma-norma suatu kebudayaan yang telah mapan. Misalnya:
seseorang bertindak sendiri tanpa rencana melaksanakan suatu kejahatan,
seperti: mencuri, menodong dan memeras.
Penyimpangan individu berdasarkan kadar penyimpangannya dibagi menjadi lima, yaitu sebagai berikut:
a.) Pembandel yaitu penyimpangan yang terjadi karena tidak patuh pada nasihat orang tua agar mengubah pendiriannya yang kurang baik.
b.) Pembangkang yaitu penyimpangan yang terjadi karena tidak taat pada peringatan orang-orang.
c.) Pelanggar yaitu penyimpangan yang terjadi karena melanggar norma-norma umum yang berlaku dalam masyarakat.
d.)
Perusuh atau penjahat yaitu penyimpangan yang terjadi karena mengabaikan
norma-norma umum, sehingga menimbulkan kerugian harta benda atau jiwa
di lingkungannya.
e.) Munafik
yaitu penyimpangan yang terjadi karena tidak menepati janji, berkata
bohong, mengkhianati kepercayaan dan berlagak membela.
2.) Penyimpangan kelompok (group deviation)
Penyimpangan
kelompok adalah tindakan sekelompok orang yang beraksi secara kolektif
dengan cara yang bertentangan dengan norma-norma masyarakat. Misalnya:
mafia obat-obatan terlarang dan narkotika, geng, dan komplotan penjahat.
Dalam penyimpangan kelompok biasanya kejahatan yang mereka lakukan sulit dibongkar dan dilacak pihak kepolisian.
JENIS-JENIS PENYIMPANGAN SOSIAL
Batasan
perilaku menyimpang ditentukan oleh norma-norma masyarakat. Jenis
penyimpangan sosial (perilaku menyimpang), antara lain sebagai berikut:
a. Penyimpangan seksual
Penyimpangan
seksual adalah perilaku seksual yang tidak lazim dilakukan.
Penyimpangan seksual dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain
sebagai berikut:
1.) Perzinaan
Perzinaan
adalah hubungan seksual yang dilakukan oleh pria dengan wanita di luar
pernikahan, baik mereka yang sudah pernah melakukan pernikahan yang sah
atau belum.
2.) Suka terhadap sesama jenis (homoseksualitas)
Suka terhadap sesama jenis dalam penyimpangan seksual dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut:
a.) Lesbian adalah hubungan seksual yang dilakukan sesama wanita.
b.) Homoseks adalah hubungan seksual yang dilakukan sesama pria.
Seseorang
menjadi homoseksual pada umumnya karena pengaruh lingkungan sosial dan
ada yang karena faktor bawaan sejak lahir. Tindakan ini bertentangan
dengan norma-norma sosial dan agama sehingga dianggap sebagai perilaku
menyimpang.
3.) Hubungan seksual di luar nikah (kumpul kebo)
Hubungan
seksual di luar nikah (kumpul kebo) adalah hubungan suami istri tanpa
ikatan perkawinan. Hal itu merupakan perilaku seks bebas yang mengundang
terjangkitnya penyakit kelamin yang membahayakan seperti virus HIV
penyebab penyakit AIDS.
4.) Pemerkosaan
Pemerkosaan adalah tindakan pemaksaan dengan kekerasan pada orang lain untuk melakukan hubungan seksual.
Penyimpangan
seksual selain bertentangan dengan norma, juga berbahaya bagi pelakunya
maupun bagi masyarakat. Bahaya dari penyimpangan seksual antara lain
sebagai berikut:
1.)
Pencemaran dan pencampuradukan keturunan. Masyarakat Indonesia masih
menjunjung adat keturunan yang mengagungkan kesucian, kehormatan, dan
kemurnian keturunan.
2.)
Penularan penyakit kelamin yang membahayakan pasangan suami istri dan
dapat mengancam keselamatan anak yang dilahirkannya. Penyakit HIV AIDS
yang sangat menakutkan juga disebabkan oleh zina.
3.) Ketidakteraturan rumah tangga sebagai akibat perceraian karena suami atau istri berbuat zina, sehingga menghancurkan keluarga.
4.)
Terlantarnya anak-anak yang tidak berdosa sebagai akibat ulah
orang-orang yang tidak bertanggung jawab (para pelaku zina), sehingga
anak yang dilahirkan mendapat julukan anak haram.
b. Penyalahgunaan narkotika
Penggunaan
narkotika di bidang kedokteran, penelitian, dan pengembangan ilmu
pengetahuan dapat memberikan manfaat bagi manusia. Sebaliknya jika
narkotika digunakan tidak sesuai dengan norma agama dan masyarakat maka
akan mengakibatkan perilaku menyimpang.
Jenis-jenis
narkotika antara lain ganja, candu, putaw, sabu-sabu, morfin, dan
heroin. Ada beberapa alasan orang menggunakan narkotika antara lain
sebagai berikut:
1.) Ingin menghilangkan atau mengurangi rasa takut.
2.) Ingin menghilangkan rasa malu atau minder.
3.) Ingin melupakan kesulitan atau permasalahan hidup meskipun hanya sebentar.
4.) Ada yang hanya sekedar ingin coba-coba supaya tidak ingin ketinggalan zaman.
Penggunaan
narkotika pada tingkatan dan waktu tertentu akan mengakibatkan
ketergantungan pada narkotika. Bahkan bisa menjadikan seseorang berbuat
menyimpang seperti pembunuhan, pemerkosaan, dan perampokan.
Contoh penyalahgunaan narkotika antara lain sebagai berikut:
1.) Zat yang semestinya diberikan kepada orang sakit untuk mengurangi rasa sakit malah dipakai orang sehat.
2.) Obat penenang semestinya untuk pasien jiwa agar tidak mengamuk justru dipakai orang sehat.
c. Perkelahian pelajar
Perkelahian
pelajar atau tawuran selalu diawali dengan adanya suatu konflik antara
dua pelajar atau lebih yang berlainan sekolah. Perkelahian pelajar atau
tawuran menjadi suatu masalah yang serius karena peserta tawuran
cenderung mengabaikan norma-norma yang ada, membabi buta, melibatkan
korban yang tak bersalah dan merusak apa saja yang ada di sekitarnya.
Akibatnya, tawuran mendatangkan bentuk penyimpangan lain seperti
perusakan, penganiayaan dan bahkan pembunuhan.
d. Alkoholisme
Minuman
alkohol mempunyai efek negatif terhadap saraf. Alkohol dapat
mengakibatkan mabuk dan tidak dapat berpikir secara normal. Akibatnya
seorang pemabuk mudah melakukan tindakan yang tidak terkendali baik
secara fisik, sosial, maupun psikologis sehingga merugikan dirinya
maupun orang lain. penyimpangan lain seperti perusakan, penganiayaan,
dan bahkan pembunuhan.
e. Tindakan kriminal atau tindakan kejahatan
Tindakan
kejahatan adalah suatu bentuk pelanggaran norma hukum, khususnya yang
menyangkut pidana dan perdata yang pada dasarnya merupakan tindakan yang
merugikan orang lain.
Tindakan
kriminal antara lain adalah pencurian, pemerkosaan, dan perampokan.
Tindak kejahatan mencakup pula semua kegiatan yang dapat mengganggu
keamanan dan kestabilan negara seperti korupsi, makar, subversi dan
terorisme.
f. Penyimpangan dalam gaya hidup yang lain dari biasanya
Penyimpangan dalam gaya hidup yang lain dan biasanya, misalnya berikut ini:
1.) Sikap
arogansi adalah kesombongan terhadap sesuatu yang dimilikinya seperti
kekayaan, kekuasaan, dan kepandaian. Sikap arogansi bisa saja dilakukan
oleh seseorang yang ingin menutupi kekurangan yang dimilikinya.
2.) Sikap
eksentrik adalah perbuatan yang menyimpang dari biasanya sehingga
dianggap aneh, seperti anak laki-laki memakai anting-anting, perempuan
memakai anting di lidahnya, gaya rambut modern (berdiri ke atas) dan
seniman berambut gondrong.
Referensi:
- Sudarmi, Sri. 2009. Sosiologi 1 Kelas X SMA/ MA. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
- Muin, Idianto. 2006. Sosiologi SMA/ MA untuk kelas X. Jakarta: Erlangga.
- Muin, Idianto. 2004. Sosiologi SMA/ MA untuk kelas X. Jakarta: Erlangga.
- Suganda, Azis. 1997. Sosiologi 1 untuk SMU Kelas 2. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
- Shadily, Hassan. 1998. Sosiologi Untuk Masyarakat Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta
Langganan:
Komentar (Atom)


